Renungan Persiapan Perjamuan Kudus 5 Januari 2025

Menyanyikan KJ 120:1-3 HAI, SIARKAN DI GUNUNG

MEWARTAKAN BERITA SUKACITA

Kata malaikat itu kepada mereka, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk segala bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud. Kemudian kembalilah gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang telah mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” (Lukas 2:10-11, 20)

Bunda Teresa pernah mengatakan, “I am a little pencil in the hand of a writing God, who is sending a love letter to the world.” Jika kita perhatikan pernyataan bunda Teresa tersebut, maka ada dua hal yang menarik yaitu: bunda Teresa mengibaratkan dirinya sama seperti pensil kecil dan pensil kecil itu digunakan untuk menulis surat cinta Tuhan kepada dunia. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang kecil itu dianggap remeh. Ekspresi bahagia akan diperlihatkan ketika kita mendapat hadiah yang besar ketimbang yang kecil. Anak kecil yang memberikan pendapat, seringkali tidak terlalu dianggap karena dirasa belum banyak pengalaman. Sekalipun demikian, bunda Teresa memberi pemahaman yang berbeda. Mungkin dalam kacamata manusia, yang kecil itu tidak berguna dan tidak berharga, tetapi di hadapan dan di tangan Allah, yang kecil itu pun berharga bahkan dipakai oleh Allah untuk menuliskan surat cinta-Nya kepada dunia ini.

Injil Lukas 2:1-20 mengisahkan kelahiran bayi Yesus di Betlehem yang menunjukkan penggenapan janji Allah yaitu Juruselamat bagi dunia, dan itu diwartakan oleh para malaikat di padang. Di sanalah kasih karunia Allah digenapi dan diwartakan. Penulis kitab Lukas seakan mau menyatakan kepada kita bahwa berita sukacita yang dari Tuhan patutlah diwartakan dengan segera bahwa kasih Allah nyata dengan kehadiran seorang bayi yang lahir di Betlehem (Ay. 6–7). Kisah berlanjut dengan pewartaan kepada para gembala di padang, dan mereka menerima berita itu dengan sukacita. Dari perikop ini penulis kitab Lukas mau menunjukkan: kasih karunia Allah itu digenapi bukan kepada orang-orang “besar”. Penggenapan kasih karunia Allah bagi dunia justru melalui orang-orang sederhana atau kecil, seperti Maria dan Yusuf, serta para gembala. Melalui mereka kasih karunia Allah menjadi nyata.

Siapakah Yusuf dan Maria? Keduanya adalah orang sederhana. Yusuf adalah tukang kayu. Maria adalah seorang perempuan biasa. Namun Tuhan memakai mereka sebagai pemeran penting dalam kehadiran Juruselamat. Siapakah para gembala? Para gembala bukanlah orang yang terkemuka. Mereka adalah golongan masyarakat yang dianggap rendah dan berperilaku kasar. Mereka dianggap sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Oleh karena itu kesaksiannya di pengadilan dipandang sebelah mata. Namun, kepada merekalah justru berita sukacita dari Allah menjadi nyata dan diwartakan pertama-tama kepada para gembala.

Saudara, jika kita merasa bukan siapa-siapa atau merasa kecil, ingatlah bahwa Allah justru memakai para gembala untuk menyatakan penggenapan janji-Nya. Itu berarti sekalipun kita orang sederhana atau kecil, Tuhan berkenan melibatkan kita untuk mewartakan kasih-Nya bagi dunia. Seperti para gembala mari kita menerima berita sukacita itu dengan senang hati. Apa yang patut kita lakukan?

Saudara, hari ini kita akan mempersiapkan diri untuk mengikuti Perjamuan Kudus yang akan dilaksanakan pada Minggu, 5 Januari 2025.  Perjamuan Kudus di Minggu pertama tahun 2025 ini kiranya menguatkan komitmen kita untuk menyambut tahun baru dengan sukacita sebab Allah telah menggenapi janji-Nya dan terus berkarya untuk mewartakan kasih karunia Allah yang sudah nyata dalam Kristus Yesus.

Dalam Perjamuan Kudus kita akan menerima roti dan anggur. Roti sebagai simbol tubuh Kristus yang diserahkan untuk keselamatan manusia. Anggur sebagai simbol darah Kristus yang telah tercurah untuk penebusan dosa kita. Mengikuti Perjamuan Kudus akan mengingatkan kita akan makna kehadiran Kristus di dunia, yaitu pengorbanan Kristus yang tak tergantikan untuk menyelamatkan kita manusia berdosa. Mengikuti Perjamuan Kudus adalah tanda bahwa kita ada dalam persekutuan Allah dan sesama manusia. Mengikuti Perjamuan Kudus akan menguatkan iman kita untuk hidup di dalam Kristus dengan menjalani kehidupan dengan penuh sukacita dan menjadi pewarta yang memuliakan Allah.

Selamat mempersiapkan diri untuk mengikuti Perjamuan Kudus dengan terus mewartakan berita sukacita dari Allah.

Menyanyikan KJ 101:2-3 ALAM RAYA BERKUMANDANG