
Renungan 2 Februari 2025
Berani Menjawab Panggilan-Nya
Oleh: Ardi Utama
Dengar Dia panggil nama saya, Dengar Dia panggil namamu,
Dengar Dia panggil nama saya, juga Dia panggil namamu
Apakah kita masih ingat lagu itu? Atau apakah lagu tersebut mengingatkan kita pada kenangan saat kita memasuki kelas sekolah minggu bersama teman-teman dan guru yang penuh semangat? “Dengar, Dia menyebut nama saya, Dia juga menyebut namamu”. Lagu ini bukan sekadar lagu anak-anak, melainkan sebuah pengingat tentang panggilan Tuhan yang personal dan penuh kasih.
Ketika kita kembali mengingat momen tersebut, ada sebuah pertanyaan yang sering muncul: apakah kita masih bisa merasakan sukacita yang sama? Sukacita yang begitu polos, tanpa beban, yang kita rasakan di masa itu. Tentunya saat ini banyak hal yang terjadi dengan segala kesibukan dan tantangan hidup, kadang sulit untuk merasakan kembali suara panggilan Tuhan dan respon yang begitu polos dan penuh suka cita. Dalam bait lagu itu kita juga menyanyikan, “O giranglah, ooo giranglah, Yesus amat cinta pada saya.” Apakah kita masih bisa merasakan sukacita itu sekarang? Sukacita yang lahir dari keputusan kita untuk meresponi panggilan Tuhan. Dari hati yang penuh dengan rasa syukur, mampukah kita merasakan kembali betapa dalamnya cinta Tuhan kepada kita, dan membalasnya dengan kegirangan yang tulus.
Dalam kisah Yeremia (Yeremia 1:4-10), Tuhan menyatakan bahwa panggilan Yeremia sudah ditentukan sejak sebelum kelahirannya, menunjukkan bahwa panggilan Tuhan bagi kita adalah hal yang sangat pribadi, bahkan sebelum kita menyadarinya. Ini mengingatkan kita bahwa hidup kita memiliki tujuan yang lebih besar dalam rencana-Nya. Yeremia merasa muda dan tidak berpengalaman, mirip dengan keraguan yang sering kita rasakan saat dipanggil Tuhan. Namun, Tuhan menjawab keraguan itu dengan janji penyertaan-Nya, memberinya keberanian dan keyakinan untuk berbicara. Tuhan juga menjanjikan bahwa Dia akan menyertai Yeremia, meskipun ada tantangan dan penolakan. Panggilan Tuhan bagi kita juga bukan untuk kita berjalan sendirian, tetapi dengan kekuatan dan perlindungan-Nya. Tuhan memberi Yeremia keberanian untuk menyampaikan firman-Nya dengan tegas, meskipun menghadapi kesulitan. Begitu juga dengan panggilan kita, kita dipanggil untuk merespons dengan berani dan setia terhadap kehendak Tuhan, meskipun tantangan ada di depan. Melalui Yeremia, Tuhan mengajarkan kita bahwa panggilan-Nya lebih dari sekadar mendengarkan suara-Nya, tetapi juga tentang merespons dengan kesiapan untuk melaksanakan peran yang telah Dia tetapkan bagi kita. Panggilan ini bukan untuk hidup dalam kenyamanan, melainkan untuk membawa perubahan, menyampaikan kebenaran, dan mengikuti Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Ketika kita mengenang dan bernyanyi “Kujawab ya, ya ya, Kujawab ya, ya ya, Kujawab ya, ya Tuhan,” apakah kita masih dapat menjawab dengan kepolosan seperti saat di sekolah minggu? Apakah kita masih merasakan sukacita yang sama seperti dulu? Kini, kita kembali dihadapkan pada pertanyaan, “Apakah kamu mendengar Dia memanggil namamu?” Mampukah kita menjawab dengan sepenuh hati, “Ya Tuhan”?

