
Refreshing Trip Komisi Perkunjungan dan Pelayanan Kematian (KPPK) – 2025
Refreshing Trip Komisi Perkunjungan dan Pelayanan Kematian (KPPK)
Oleh: IMSA
Jam baru menunjukkan pukul 06.00 ketika satu persatu peserta REFRESHING TRIP KOMISI PERKUNJUNGAN DAN PELAYANAN KEMATIAN (KPPK) mulai berdatangan di halaman gereja. Wajah mereka tampak ceria. Kalau soal ketepatan waktu, senior-senior kita ini memang patut diacungi jempol. Tepat pukul 06.30 acara dimulai dengan didahului kebaktian singkat yang dipimpin oleh Pdt. Em. Iman Santoso. Setengah jam kemudian kebaktian selesai dan kepada peserta dibagikan snack dan sarapan pagi yang bisa dinikmati dalam perjalanan. Peserta langsung menuju kendaraan masing-masing. Kali ini peserta sebanyak 41 orang dibagi dalam 3 kendaraan yaitu satu buah bus sedang, 1 buah mobil gereja dan satu buah mobil milik jemaat. Tidak pakai lama, kami pun berangkat. Tujuan pertama adalah Kebun Raya Indrokilo di Boyolali.

KEBUN RAYA INDROKILO ( BOYOLALI)
Karena Boyolali terhitung dekat, kira-kira hanya 45 menit, kami pun tiba di Kebun Raya Indrokilo dengan kondisi fisik 95%-an. Masih sepi ketika kami tiba di sana. Tahu ga apa yang kami lakukan ketika tiba di sana? Cari toilet…hahaha. Mungkin karena hari masih pagi dan AC bus yang cukup dingin mengakibatkan banyak yang kebelet pipis. Habis ke toilet? Ya lanjut sesi foto-foto dong. Foto di pintu gerbang menjadi hal wajib. Dan mohon dimaklumi kalau selanjutnya sesi foto ini dilakukan hampir di setiap sudut kebun raya.
Kebun Raya Indrokilo Boyolali sendiri memiliki luas sekitar 8,9 hektar. Kebun raya ini terletak di Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. Koleksi tanaman di Kebun Raya Indrokilo meliputi berbagai jenis, termasuk tanaman obat, tanaman buah, dan tanaman hias. Kebun Raya Indrokilo memiliki lima fungsi utama, yaitu konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan. Kebun raya ini memiliki koleksi tanaman yang beragam, dengan jumlah koleksi mencapai 368 spesies. Capek juga walking around destinasi pertama ini. Ada beberapa yang menjadi spot foto favorit, seperti bermacam2 pohon langka, tiruan Bahtera Nuh dan banyak lagi. Sebenarnya masih banyak spot foto yang lain, tapi karena waktu yang disediakan panitia sudah habis ( dan sudah lumayan capek juga) kami bergegas menuju bus.
Cus menuju destinasi berikutnya: Tawangmangu, I’m coming.
RUMAH ATSIRI INDONESIA (TAWANGMANGU)
Kalau yang satu ini lumayan jauh jaraknya. Ditempuh kira-kira 1,5 jam perjalanan dari Kebun Raya Indrokilo. Tapi jarak yang jauh tidak terlalu kami rasakan. Yang ngantuk ya tidur, yang tidak ngantuk ya ngobrol. Jam 11-an kami tiba di lokasi. kesan pertama adalah bersih, bagus dan terorganisasi dengan baik. Eh.. tapi sebelumnya, pada tahu nggak sih apa atsiri itu? Minyak atsiri atau lebih dikenal sebagai essential oil, adalah senyawa berharga yang dihasilkan melalui proses penyulingan dari berbagai bagian tanaman, mulai dari biji, bunga, buah, batang, daun, gagang, kulit kayu, hingga akar atau rhizoma. Segala daun-daunan yang aromanya sudah biasa kita temui sampai yang langka ada di sini. Mulai dari serai yang dipakai sebagai bumbu masak, sampai serai yang beraroma lemon, dan berbagai macam tumbuhan aromatik tersedia lengkap di sini. Dengan didampingi oleh pemandu, kepada kami ditunjukkan berbagai macam tumbuhan yang siap diproses untuk diambil minyak atsiri-nya. Juga proses pengolahan daun pohon kayu putih untuk disuling menjadi minyak kayu putih. Demikian pula wewangian dari bunga-bungaan, kami baru tahu bahwa prosesnya tidak dilakukan dengan cara menyuling, tetapi wangi dari bunga “ditangkap” dengan menggunakan lemak hewani untuk kemudian diproses lebih lanjut menghasilkan minyak beraroma bunga.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 13.00, tapi kami masih betah. Selain udaranya yang sejuk, penataan tanaman-tanaman yang indah membuat kami ingin berlama-lama. Kunjungan ke Rumah Atsiri Indonesia ditutup dengan sajian teh serai lemon hangat dan roti panggang. Wah lha iki… cocok karo hawane. Nikmatnya pol. Beberapa ibu masih sempat berbelanja cinderamata walaupun jam kunjungan sudah molor jauhhh…wkwk… kapan lagi ke sini ya Bu.
PASAR GEDE SOLO
Udah pada laper. Gas pol ke rumah makan Soewatu arah ke Candi Sukuh. Jauh juga ternyata, tapi gapapa. Istilah Vidra, madyang sik ben ra pucet. Karena habis ini kita mau ke destinasi favorit ibu-ibu. Iya apalagi kalau bukan Pasar Gede di kota Solo alias Surakarta. Habis makan kenyang kayak baterai abis dicas, langsung mengarah turun gunung. Tapi apa boleh buat jam sudah di pukul 16.00 lebih ketika tiba di SarDe alias Pasar Gede. Yahhh udah pada tutup dong kiosnya. Tapi tenang, masih cukup banyak yang buka kok. Tentengan untuk orang rumah masih aman terkendali. Benar kata orang, Pasar Gede adalah surganya makanan khas tradisional Jawa Tengah. Opo wae ono. Yang punya hobi kulineran, silakan diulang lagi ya. Tapi datangnya jangan kesiangan apalagi kesorean kayak kita ya…. udah pada habis …hehehe. Bubaran belanja, simbok-simbok sudah aman tenteram dalam damai sejahtera dengan tentengan masing-masing. Kita mau bablas ke kota tercinta tapi panitia berkehendak lain. Kita diajak makan malam dulu di RM Joyo Roso Boyolali. Ya udah deh sepanjang jalan pada ngobrol ngalor ngidul, karaoke-an, nyanyi-nyanyi bareng (itu yang di bus, yang di mobil pribadi ga tahu).
Ga terasa jam 20.00 kita touch down Salatiga. Trip ditutup dengan doa bersama di bus dipimpin oleh Pdt. Helen. Sayonara Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Terimakasih Tuhan perjalanan boleh berjalan lancar. Terimakasih pula segenap Pengurus KPPK GKI Salatiga. Kapan-kapan kita dolan bareng lagi ya! Sampai jumpa dalam kegiatan berikutnya.












