MERAYAKAN KARYA TRINITAS

PF: Pdt. Yefta Setiawan Krisgunadi

Dalam rangka merayakan minggu Trinitas, gereja mengambil tema “Merayakan Karya Trinitas” yang diambil dari Yohanes 16: 12-15 membuat saya teringat bahwa karya Trinitas itu adalah sebuah doktrin Kekristenan yang kita percaya bahwa Allah dapat bekerja melalui segala sesuatu bahkan yang mustahil sekalipun.

Dalam Alkitab sendiri tidak pernah ada tertulis secara gamblang bahwa Allah adalah pribadi Tritunggal, tetapi para teolog Kristen menemukan sebuah pola doktrinal dimana Trinitas itu memang ada dan sampai saat ini kita percaya bahwa Allah adalah pribadi Tritunggal.

“Di dalam sebuah benda terdapat kesatuan sekaligus kemajemukan.”

Pernyataan pendeta Yefta tersebut membuat saya penasaran untuk mengetahui lebih dalam tentang pribadi Allah yang Tritunggal. Pada Ulangan 6:4, bangsa Israel mengakui bahwa Allah adalah Allah yang Esa. Dalam bahasa aslinya (Ibrani) kata “Esa” dikatakan sebagai Ekhad yang berarti “satu (tetapi jamak)”, sedangkan dalam bahasa Arab dikatakan sebagai Yakhid atau Wahid yang artinya “satu yang absolut.” Disinilah letak perbedaan doktrin Trinitas Allah itu.

Setidaknya ada dua ajaran yang mengambil doktrin Trinitas kemudian disederhanakan untuk dapat dijabarkan sehingga mampu menjelaskan doktrin Trinitas pada zaman itu, yaitu Modalisme dan Tritheisme. Sabellius adalah seorang pengajar di Roma pada sekitaran tahun 215M dan memperkenalkan Modalisme, atau modalitas Allah dalam menampakkan diri atau secara sederhana dapat diumpamakan seorang Presiden sebagai Kepala Negara, yang di rumah menjadi Kepala keluarga, dan sekaligus suami. Sedangkan ajaran yang lain menjelaskan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga bentuk atau pribadi yang berbeda yang bekerja untuk satu tujuan yang sama.

Seperti yang dikatakan oleh Pdt. Yefta, bahwa kita adalah manusia yang terbatas sedangkan Allah adalah pribadi yang tidak terbatas sehingga tidak mungkin bagi kita memahami Allah, karena jika kita dapat memahami Allah maka itu bukan Allah. Allah adalah Misteri, dan misteri tentang Allah seharusnya membuat kita termotivasi untuk mencari tahu dan mengenal Allah lebih dalam. Cara terbaik untuk memahami Allah adalah dengan mengakui Yesus adalah Tuhan, dan jangan terganggu dengan jumlah Allah karena para penulis Alkitab pun tidak terganggu dengan hal itu. Mereka mendengar, melihat, dan mengalami karya Allah dalam hidup mereka.

Dalam Roma 5:1, 5 dan 6 menjelaskan bahwa Allah Tritunggal itu yakni Allah Bapa, Yesus Kristus, dan juga Roh Kudus bekerjasama untuk menggenapi karya penyelamatan bagi manusia. Seperti Paulus yang tidak menghitung jumlah Allah, tetapi dengan itulah kita mendapatkan pesan yang sangat penting bahwa Allah begitu mengasihi kita, dan Yesus-lah pribadi yang dapat memperdamaikan kita dari dosa-dosa, juga Roh Kudus yang membuat kita bisa merasakan kasih Allah yang begitu besar. Ia yang menyertai kita, menopang kita, dan memimpin kita melalui setiap kehidupan kita. 

“Daripada diteorikan, Allah lebih bisa dirasakan kehadiran-Nya.”

Jangan kita padamkan api Roh Kudus dalam hidup kita, karena Roh Kudus itulah yang akan menuntun kita untuk mengalami pribadi Allah dan menambahkan pengenalan akan Dia dalam hidup kita. Saya percaya bahwa Dialah yang menjaga kita supaya tidak tersesat dan terombang-ambingkan oleh pengajaran yang salah. Sifat Tritunggal Allah bukan untuk diperdebatkan, tetapi seharusnya membuat kita sadar bahwa Allah dapat melakukan karya keselamatan yang melampaui pikiran kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.