Ringkasan Khotbah Ibadah Minggu 4 November 2018

HUKUM YANG MEMBERDAYAKAN, BUKAN YANG MENINDAS

Ulangan 6:1-9; Mazmur 119:1-8; Ibrani 9:11-14 dan Markus 12:28-34

Pdt. Yefta Setiawan Krisgunadi

 

Ada sebuah pertanyaan yg ditulis oleh seorang penulis buku :

APA DOSA UTAMA YANG DILAKUKAN OLEH ORANG KRISTEN ?

Apakah mencuri ? Apakah dosa perzinahan / perselingkuhan ? Atau dosa yang lain ?

Menurut penulis tersebut kalau KASIH adalah Hukum Terutama, maka jangan-jangan dosa terutama atau dosa besar yang dilakukan oleh orang Kristen adalah TIDAK MENGASIHI.

Coba renungkan, betul atau tidak. Bahkan, sebenarnya semua dosa yang disebut di atas pun mengandung unsur Tidak Mengasihi. Misalnya, orang yang mencuri jelas tidak mengasihi pemilik barang yang dicurinya.

Apa penyebabnya orang melakukan dosa terutama ini ? Mungkin karena merasa perintah Tuhan ini terasa berat dan menganggapnya sebagai beban. Ini cara berpikir era Taurat. Mendengar kata ‘Taurat”, kita mungkin membayangkan sederetan daftar hukum dan aturan-aturan yang jumlahnya sangat banyak, disertai dengan sangsi-sangsinya jika melanggar. Hukum Taurat ini intinya ada pada 10 Perintah Allah atau Dasa Titah. Namun pada awalnya sebenarnya Hukum Taurat adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan agar umat mengalami damai sejahtera. Taurat bersifat sangat positif. Pemazmur mengatakan berbahagialah orang yang hidup menuruti Hukum Taurat. Tetapi dalam perkembangannya di tangan para pengajar Taurat menjadi beban bagi umat Israel. Bahkan hukum Taurat dijabarkan menjadi 248 perintah dan 365 larangan. Jadi totalnya ada 613 perintah, yang rumit dan harus dituruti oleh Israel.

Contoh kerumitan ini misalnya tentang Sabat. Perintah ke-4 dalam Dasa Titah ini adalah “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat”. Salah satu inti pesannya adalah pada hari Sabat tidak boleh bekerja. Namun kemudian para pengajar Taurat menjabarkan perintah ini menjadi 39 jenis kerja yang tidak boleh dilakukan hari Sabat. Dari 39 jenis ini dibagi lagi menjadi sub jenis-sub jenis. Misalnya mengenai “membawa beban”. Apakah menggendong bayi termasuk membawa beban atau tidak? Dijawab tidak termasuk. Yang termasuk adalah membawa batu. Membawa batu adalah membawa beban. Nah, kalau bayi yang digendong tersebut membawa batu, termasuk membawa beban atau tidak? Termasuk, sehingga dilarang. Lalu, kalau batu tersebut adalah batu perhiasan, itu termasuk membawa beban atau tidak? Kalau perhiasan diperbolehkan.

Bayangkan ada 613 aturan semacam itu. Sehingga penjabaran aturan ini justru membuat Hukum Taurat menjadi hukum yang menindas.

Di tengah kondisi penjabaran Hukum Taurat yang begitu menindas, Tuhan Yesus mengajarkan Hukum Kasih. Sehingga ajaran Tuhan Yesus bertentangan dengan ahli Taurat yang pada akhirnya Yesus harus mati di kayu salib.

Sebenarnya yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah untuk mengembalikan esensi Hukum Taurat. Yaitu mengembalikan Hukum Taurat yang disimpangkan, kepada Hukum Kasih, mengasihi Allah dan mengasihi manusia.

Yesus mengutip Shema Israel (Pengakuan Iman Israel). “Dengarlah… Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Yesus meminta kasih kita kepada Allah itu utuh. Yesus memakai kata segenap. Dan salah satu yang digunakan dalam mengasihi adalah kata “akal budi”. Iman yang tanpa akal budi tidaklah lengkap. Rasa saja tidak cukup tanpa rasio.

Ada contoh seorang adik yang kehabisan uangnya di tengah bulan dan meminta uang ke kakaknya. Setelah ditanya alasan kehabisan uangnya adalah kenapa, karena semua uangnya sudah dipersembahkan kepada Tuhan ketika ibadah hari minggu, karena ditantang oleh pendetanya untuk mempersembahkan seluruh uangnya untuk Tuhan. Ini contoh beriman tanpa akal budi.

Demikian juga sebaliknya kalau beriman hanya memakai akal budi saja, namun tanpa rasa juga tidak baik. Ibadah kita akan menjadi kering tanpa rasa. Keduanya penting baik rasa dan akal budi.

Mengenai Hukum ke-2 tentang mengasihi sesama, Yesus mengutip persis kitab Imamat 19:18b.

Yang berikut, ketika Tuhan Yesus memberikan perintah untuk mengasihi apakah itu perintah yang berat? Kalau kita memandang sebagaimana Hukum Taurat seperti yang diajarkan oleh para pengajar Taurat, tentunya sangat berat. Tapi coba kita lihat kembali saat Dasa Titah diberikan sebagai berikut :

Keluaran 20:2 (TB) “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

Hukum Taurat diberikan oleh Tuhan setelah MEMBEBASKAN bangsa Israel DARI PERBUDAKAN. Hukum Taurat diberikan untuk menata kehidupan. Bukan untuk memperbudak.

Tuhan Yesus tidak memberikan beban. Tuhan Yesus sudah membebaskan kita dari dosa melalui kematian dan karya-Nya sebagai Imam Besar. Demikian juga Tuhan Yesus tidak bermaksud memberikan beban yang berat, karena Yesus sendiri yang membebaskan kita.

Ada kisah seorang Pendeta GKI yang sdh almarhum. Dia berkisah tentang dirinya dan sahabatnya di jaman penjajahan Jepang. Pernah suatu kali temannya itu melakukan kesalahan sehingga akan dikenakan hukuman cambuk. Namun dirinya menggantikan temannya menerima hukuman cambuk karena kasihnya pada temannya. Bertahun-tahun kemudian dirinya menjadi Pendeta dan temannya menjadi pengusaha yang sukses. Sebagai pengusaha menjadi sangat sibuk dan susah ditemui, kecuali harus dengan perjanjian terlebih dahulu. Namun bila temannya yang adalah pendeta mau bertemu, akan segera ditemui sesibuk apapun. Karena di masa lalu pendeta ini pernah menyelamatkan pengusaha tersebut. Relasi atas dasar kasih ini yang memungkinkan pengusaha tersebut bersedia ditemui kapanpun oleh temannya.

Yang Yesus tawarkan adalah relasi kasih. Bukan beban. Kalau dasarnya kasih, maka perintah bukanlah sebagai beban. Ibarat seperti orang yang jatuh cinta, permintaan kekasih dilakukannya dengan gembira dan bukan sebagai beban. Sebagai contoh di dalam keluarga yang saling mengasihi, pasti masing-masing anggota keluarga akan berusaha melakukan yang terbaik dan tanpa diminta. Orang tua yang mengasihi anaknya tanpa diminta pun akan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Demikian juga seorang anak yang mengasihi orang tuanya, akan melakukan hal-hal yang menyenangkan orang tuanya.

Begitu juga relasi dengan Tuhan. Kita memuji Tuhan bukan karena ada ayat yang memberikan perintah untuk memuji Tuhan. Kita beribadah bukan karena perintah. Memberi persembahan juga bukan karena perintah-perintah Alkitab. Berbuat baik bukan karena menuruti perintah-perintah Tuhan. Bila kita berbuat baik hanya karena perintah Tuhan, maka kita akan terasa berat.

Kita melakukan semua itu karena kita mengasihi Tuhan. Kita melakukan semua itu untuk menyenangkan hati Tuhan. Ingatlah Tuhan mengasihi kita lebih dahulu supaya kita bisa beribadah kepada Allah yang hidup (Ibrani 9:14). Dasar dari ketaatan kita, persembahan kita dan perbuatan baik yang kita lakukan adalah karena kita bersyukur kepada Tuhan. Kita melakukannya karena kita mengasihi Tuhan.

Kalau kita mengetahui kasih namun belum melakukannya, maka kata-kata Tuhan Yesus itu berlaku : “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.” Tidak jauh artinya dekat dengan Kerajaan Allah tapi belum masuk dalam Kerajaan Allah tersebut. Jadi masih berada di luar Kerajaan Allah.

Oleh karena itu lakukanlah kasih itu supaya kata-kata Yesus itu berganti menjadi “engkau sudah berada di dalam Kerajaan Allah.”

Jadi manakah yang kita pilih? Apakah kita mau berada di luar Kerajaan Allah atau di dalam Kerajaan Allah. Lakukan kasih itu maka kita berada di dalam Kerajaan Allah. Amin.

Disarikan khotbah ibadah minggu, 4 November 2018 GKI Salatiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.