Sudahkah yang Terbaik Kuberikan?

Judul sebuah lagu ini dijadikan tema HUT ke 73 GKI Salatiga. Barangkali saudara juga pernah dan mungkin juga suka menyanyikan lagu ini. Bagaimana perasaan saudara ketika menyanyikan lagu ini ? Apakah saudara benar-benar menghayatinya ? Kira-kira jawaban apa yang saudara berikan terhadap kalimat tanya ini ? Bukankah sebenarnya kalimat tema hut ini menakutkan ? Kapan kita dapat menjawab pertanyaan itu dengan “sudah”? Rasanya, tak akan pernah.
Bahwa Tuhan sudah memberikan yang terbaik kepada kita, itu pasti, tetapi kita …? Apa yang sudah kita berikan kepadaNya ?

Terlalu banyak alasan yang kita kemukakan sehingga kita tidak memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Semua alasan itu – apapun itu – bermuara pada kepentingan diri sendiri, entah itu menyangkut waktu, dana, pikiran dan kepandaian kita. Kita merasa sayang memberikan itu untuk Tuhan. Di balik itu, tanpa kita sadari, kita tidak merasa bahwa sebenarnya apa yang ada pada kita, ya semua yang ada pada kita, berasal dari Tuhan, bahkan hidup ini sendiripun adalah dari Tuhan, dan karenanya sesungguhnya juga milik Tuhan. Tidak ada hak sedikitpun bagi kita sebenarnya untuk menggunakan hidup kita untuk kepentingan kita. Milik Tuhan harus diserahkan kepada Tuhan.

Jika kita sungguh-sungguh menyadari hal ini, maka kita akan lebih mudah untuk memberikan apa yang ada pada kita kepada Tuhan, bahkan memberikan yang terbaik dan bukan yang sekadarnya. Jika kita melayani Tuhan, kita akan melayani dengan segenap kemampuan, dan bukan dengan sekadarnya. Kita akan memikirkan sungguh-sungguh bagaimana sebuah pelayanan harus dilakukan; kita juga akan menggunakan waktu kita sebaik-baiknya untuk Tuhan. Bukankah sebenarnya masih ada banyak waktu yang terbuang sia-sia karena kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kurang bahkan tidak penting ? Mengapa kita tidak mengubah gaya hidup kita dan membiarkan waktu yang berharga berlalu dengan sia-sia ?

Hanya dengan kesadaran penuh bahwa Tuhan telah memberikan segala sesuatu yang kita perlukan sebagai tanda kasihNya kepada kita, maka kita akan terdorong untuk membalas kasih Tuhan itu dengan memberikan yang terbaik kepadaNya. Sebaiknya tema hut ini tetap dibiarkan menjadi kalimat yang terbuka, sehingga selalu menantang kesadaran kita.

 

Pdt. Em. Iman Santoso

Photo Credit: Crossmap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.